Tampilkan postingan dengan label ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juli 2018

Bariskan Kadernya, GP Ansor Cilacap Respon Sentimen Kebangsaan

Adipala, kitaberjejak.blogspot.co.id – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Cilacap, Ahad 29 Juli 2018, menggelar Silaturohim dalam kemasan acara berbentuk Apel Bersama GP Ansor dan Banser. Kegiatan ini dilaksanakan di Lapangan Adipala dan diiktui oleh kader-kader GP Ansor dan Banser dari beberapa kecamatan, diantaranya dari Nusawungu, Binangun, Kroya, Adipala, Sampang, Maos dan beberapa kecamatan sekitarnya.

Inspeksi Peserta oleh Inspektur Apel
Selain dari GP Ansor dan Banser, terlihat juga dalam barisan, peserta apel dari Muslimat NU, Fatayat NU, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama, Perwakilan dari Pengurus Ranting NU dan ormas kepemudaan Pemuda Pancasila.


Bertindak sebagai Inspektur Apel, ‘Aliman (34) Ketua PC GP Ansor Cilacap menyampaikan bahwa setidaknya ada 5 Sikap yang diambil oleh GP Ansor Cilacap, dalam merespon dinamika bangsa yang belakang muncul yaitu :

1. Gerakan Pemuda Ansor selalu siap sedia untuk mendukung negara dalam melawan segala bentuk Intoleransi, Radikalisme dan rongrongan berbagai pihak yang bermaksud merobohkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang dulu kyai-kyai Nahdlatul Ulama mempertaruhkan jiwa raga untuk turut serta memerdekakannya. 

2. Perjuangan melawan berbagai rongrongan tersebut, adalah perjuangan semesta, Yakni perjuangan di semua lini kehidupan berbangsa dan bernegara. GP Ansor Kabupaten Cilacap  akan selalu hadir dan berupaya maksimal dalam perjuangan tersebut.

3. Menempatkan 3 Prinsip Gerakan Ala Ansor yakni Ngaji, Ngader, dan Makaryo sebagai pilar untuk menopang dinamika organisasi dan sebagai semangat dalam menunjukkan bukti kecintaan kader terhadap NKRI. Kader ANSOR harus Ngaji, yakni Selalu berupaya untuk Belajar dan memperdalam ilmu kepada Kyai dan guru yang memiliki sanad keilmuan dan wawasan kebangsaan yang jelas. Kader ANSOR harus Ngader, yakni Menjalankan aktivitas yang memiliki orientasi dalam berjalannya kaderisasi, untuk menunjang dan memastikan keberlanjutan organisasi. Dan sebagai Kader Ansor juga harus Makaryo, Mewujudkan kemandirian kader dan organisasi dalam mencukupi kebutuhan Ekonomi.

4. Pimpinan Cabang GP Ansor Cilacap Menghimbau kepada seluruh elemen bangsa, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk selalu menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam suasana yang damai dan saling menghargai perbedaan, terutama menjelang dan saat berlangsungnya Pemilihan Umum.

5. Dan yang terakhir, Seluruh kader GP Ansor di Kabupaten Cilacap, dengan segenap daya dan upaya, Siap mengawal dan melaksanakan seluruh instruksi dari Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor demi kemaslahatan masyarakat.

Selain para peserta apel, Hadir juga menempati kursi tamu undangan dalam Apel tersebut diantaranya adalah KH Imam Tobroni, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Cilacap, KH Sahal Adzkiya Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Adipala, Mujiburrohman, Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor, H. Faisal Riza Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah dan beberapa tokoh dari lintas sektor dan lintas daerah.
GP Ansor Cilacap Satu Barisan dan Satu Komando

Di Penghujung acara, Aid Mustaqim, Mantan Ketua PC GP Ansor Wonosobo, memberikan orasi kebangsaan, menyulut kembali kobaran sentimen kebangsaan dan soliditas gerakan dengan mengajak seluruh kader GP Ansor untuk solid, satu barisan dan satu komando dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Sudah saatnya GP ANSOR untuk Solid Satu Barisan, satu komando untuk memenangkan pertempuran di berbagai lini kehidupan, demi tegak dan utuhnya Ajaran Islam Ahlussunnah wal jamaah An Nahdliyah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Pungkasnya. (123)

Minggu, 27 Mei 2018

Pesan Rois Syuriah PCNU Cilacap Untuk GP ANSOR

Kroya, www.kitaberjejak.blogspot.co.id, - Sudah sepekan lalu, Selasa (22/5) sejumlah kader Gerakan Pemuda Ansor (GP ANSOR) Kabupaten Cilacap mendatangi kediaman KH. Suada Adzkiya, Rois Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cilacap.

Kegiatan mengunjungi kediaman untuk menghadap Rois Syuriah seperti ini merupakan kegiatan yang lazim dilakukan di lingkungan Nahdlatul Ulama, ada ataupun tidak ada kepentingan, Sowan kepada Kyai seakan menjadi hal yang wajib. Terlebih, Rois Syuriah merupakan pucuk pimpinan tertinggi di Nahdlatul Ulama.
Rois Syuriah
Bersama GP Ansor Cilacap

Dalam sowan tersebut, ada beberapa hal yang disampaikan oleh Rois Syuriah kepada GP ANSOR, sebagai kader-kader Muda NU, diantaranya :

1. Perkuat Aqidah
Mbah Su’ada, Panggilan Rois Syuriah, membaca bahwa kondisi zaman sudah banyak berubah. Tantangan Nahdlatul Ulama Kedepan tidak semakin ringan, justru sebaliknya. Salah satu tantangan tersebut adalah adanya paham-paham lain yang mepertentangkan tradisi dan amalan-amalan yang selama ini dipegang teguh oleh Kalangan Nahdliyin, misalnya adalah tentang Tahlilan, Ziarah Kubur, Tradisi 7, 40, 100 hari Orang yang meninggal dan tradisi-tradisi lainnya yang selama ini di laksanakan oleh kalangan Nahdliyin. Kalangan muda NU, sebagai generasi penerus harus paham tentang dasar hukum dari amalan-amalan yang dilakukan oleh NU. Sehingga pesan pertama mbah suada adalah GP ANSOR harus dapat menjadi ruang yang memberikan penguatan-penguatan terhadap kadernya dalam pemahaman akidah Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyah.

2. Berkhidmat sesuai dengan Wilayahnya masing-masing.
Pesan kedua adalah tentang motivasi dari mbah suada kepada generasi muda NU untuk berkhidmat pada wilayahnya masing-masing. Hal ini sekaligus menjadi ajakan untuk bersinergi bersama dengan PCNU dalam membesarkan NU di Cilacap. Sebagai Wadah bagi Pemuda dan calon penerus NU, GP ANSOR diharapkan untuk dapat menggarap secara maksimal seluruh potensi yang dimiliki oleh para kader-kader muda NU, agar kedepan ketika sudah masuk usia NU, kader-kader tersebut sudah siap untuk berkhidmat secara maksimal di NU sesuai dengan  potensi kader dan kebutuhan NU.

3. Taati Aturan yang berlaku
Rois Syuriah paham sekali kepentingan para pemuda NU dalam melakukan sowan kepada beliau. Disamping bersilaturohim, GP ANSOR ini memang memiliki misi untuk mendapatkan restu, dukungan dan masukan dari Rois Syuriah dalam menjalankan kepengurusan Pimpinan Cabang GP ANSOR pasca Konferensi Cabang (Konfercab) GP ANSOR di Sidareja, pada bulan april lalu. Sehingga tidak heran, mbah suada berpesan untuk memegang teguh apa yang telah menjadi aturan organisasi. GP ANSOR memiliki aturan yang baku, yang menjadi pijakan dalam menyelenggarakan organisasi disemua tingkatan, yaitu Peraturan Dasar, Peraturan Rumah Tangga dan Peraturan Organisasi GP ANSOR. “Mari bersama-sama menaati dan melaksanakan aturan yang sudah disusun bersama-sama untuk kebaikan organisasi.” Pesannya. 

4. Ambil sisi positif dari segala sesuatu.
Hal ini karena mbah suada memandang GP ANSOR dalam merespon kegiatan pendidikan kader yang dilakukan oleh PCNU kurang maksimal. Sebut saja Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU), yang selama sudah dilaksanakan disemua Majelis Wakil Cabang (MWC). Menurut mbah suada, GP ANSOR kurang antusias dengan kegiatan tersebut. Sehingga beliau berpesan, bahwa PKPNU adalah kegiatan yang memiliki sisi positif yang baik untuk menanamkan dan meningkatkan militansi kader terhadap Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, sehingga GP ANSOR sebagai bagian dari NU dan juga memiliki kader yang banyak, diharapkan untuk dapat berperan aktif dalam PKPNU tersebut.
Dalam kesempatan baik tersebut, GP ANSOR juga memberikan masukan tentang posisi PKPNU diantara Pendidikan kaderisasi yang selama ini dilakukan oleh Badan Otonom NU.  GP ANSOR memandang perlu adanya penegasan dari para pihak yang terlibat dalam PKPNU, terutama PCNU bahwa Hasil dari PKPNU adalah dalam bentuk tumbuh dan meningkatnya Ghirah kader dalam ber Nahdlatul Ulama. Dan mestinya, jika kader GP ANSOR yang telah mengikuti PKPNU, lebih militan dalam ber ANSOR. Namun yang terjadi, PKPNU malah terkesan menjadi lembaga sendiri, membuat ruang-ruang sendiri. Harapan GP ANSOR bahwa PKPNU adalah Ruh yang menggerakkan kader untuk lebih militan, sedangkan Jasadnya tetap Badan Otonom dan Lembaga NU yang ada. Jika hal demikian yang terjadi, PKPNU ruh dan Banom Jasadnya, maka bukan tidak mungkin PC GP ANSOR siap untuk menyelenggarakan kegiatan PKPNU untuk seluruh kader-kader GP ANSOR di seluruh kabupaten cilacap berikut Barisan Ansor Serbagunanya.

Setidaknya empat point tersebut yang menjadi pesan rois syuriah, yang mampu tertangkap oleh tim kitaberjejak, dalam mengikuti GP ANSOR Cilacap bersilaturohim kepada Rois Syuriah PCNU Cilacap.
Wallohu A'lam. 

Senin, 07 Mei 2018

Mereka ber-NU dengan Riang Gembira.


Adipala, kitaberjejak.blogspot.co.id – Sudah Sepekan, Gelaran Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama Kabupaten Cilacap tahun 2018, telah usai digelar pada minggu malam, 29 April 2018. dengan puncak acara Pemilihan Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) untuk masa Khidmat 2018 – 2023. Terpilih kembali KH. Su’ada Adzkia sebagai Rois Syuriah dan KH. Drs. Nasrulloh Muchson sebagai Ketua Tanfidziyyah, dengan proses dan serangkaian kegiatan konfercab yang menurut pengamatan redaksi berjejak penuh dengan Riang gembira.
Ekspresi Peserta,
dalam Pembukaan Konfercab NU Cilacap 2018 

Bagaimana tidak riang gembira, dilihat dari postur rangkaian kegiatan, Konfercab ini lain dari pada yang lain. Bahkan Marsudi Suhud, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak canggung-canggung berseloroh dihadapan peserta konfercab dengan mengatakan Konfercab NU Cilacap itu Konfercab rasa Muktamar. Artinya tingkat keseriusan penyelenggaraan konfercab ini sudah paripurna.

Bagi saya, konfercab ini mencerminkan antusiasme masyarakat NU cilacap dalam berkhidmat dan bergabung dengan NU. Semakin kualitas penyelenggaraan konfercab yang baik, dan bahkan ada yang menyebutnya sudah berasa seperti Muktamar, artinya bahwa para pihak yang terlibat untuk mensukseskan kegiatan ini memang sangat cinta terhadap NU. Kata kyai saya, orang kalau sudah kadung cinta bisa melakukan apapun untuk memberikan yang terbaik kepada yang dicintainya. Jika boleh untuk mengambil kesimpulan awal, warga NU di cilacap sudah pada posisi, atau minimal mendekati posisi, percaya diri dan bangga menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama.

Beberapa Rangkaian kegiatan konfercab tersebut diantaranya doa bersama dan Khotmil Quran, Pawai Taaruf, Apel Kebersamaan Banom dan Kader, Bazar, Pentas Seni, Lomba solo song, Tilawah dan Menulis, Donor Darah dan tentunya kegiatan utama adalah Sidang-sidang Konfercab.

Membaca beberapa tulisan menyatakan bahwa, Gembira, secara sederhananya dapat diartikan dengan rasa senang, bangga, bahagia, suka,. Dari beberapa pakar psikologi menyampaikan bahwa gembira atau kegembiaraan merupakan sebuah perasaan positif yang berasal dari keseluruhan hidup manusia yang ditandai dengan adanya kesenangan yang dirasakan oleh individu maupun kelompok ketika melakukan hal yang disenangi dengan tidak merasa menderita. Sejalan dengan pendapat para pakar psikologi tersebut, Seluruh elemen NU dan bahkan warga masyarakat di Cilacap, memancarkan energi positif, dalam pelaksanaan  konfercab NU ini.

Antusiasme Masyarakat
Untuk mengikuti Pawai Ta'aruf
(Sumber :Fb Lisa Choiriyah)
Aura kegembiraan jelas terpancar dari kegiatan ini, baik dari para tamu undangan, orang-orang yang terlibat dalam rangkaian kegiatan-kegiatan tersebut. mari kita lihat Misalnya pada saat pawai taaruf yang dilaksanakan, sehari sebelum upacara resmi pembukaan dimulai, luapan kegembiaraan sudah mengemuka dari warga Nahdliyin, secara sukarela berbondong-bondong untuk turut dalam pawai ini, tidak hanya dari warga Nahdliyin yang ada di kecamatan Adipala, pawai ini juga di ikuti oleh yang dari luar Adipala.  Terlebih di sore harinya langsung di sambut dengan pertunjukkan-pertunjukkan seni yang digawangi oleh Lembaga Seni dan Budaya Muslim (Lesbumi), sebuah Lembaga milik NU yang khusus menggarap Kesenian dan Kebudayaan, melalu Panggung Seni yang berdiri Megah di Komplek PP Raudlatul Huda Welahan. Dan menariknya Panggung Seni ini terus saja memproduksi hiburan sampai dengan malam terakhir Konfercab NU, dengan berbagai penampilan dan suguhan seni yang sangat menghibur masyarakat dan peserta konfercab.

Stand Bazar yang berada di sekitar
Arena Konfercab NU Cilacap 2018
Tidak hanya itu, untuk warga masyarakat atau tamu undangan yang hadir di arena Konfercab, sambil menikmati alunan musik, menonton drama teater, mendengarkan lantunan merdunya qosidah ataupun pertunjukkan seni laiinya, sembari berjalan-jalan melihat Bazar yang sengaja di sediakan oleh panitia. Panitia menggear bazar yang berisikan stand-stand untuk Jual beli atau sekedar Promosi di Halaman Masjid Baitul Muttaqin dan Sepanjang jalan antara Masjid sampai ke Madrasah Aliyah Raudlatul Huda Welahan Wetan.  Dari total 65 Stand yang disediakan panitia, ternyata jumlah tersebut masih kurang, karena setelah di data oleh panitia, jumlah stand atau pedagang ada 68, dan prakatis kekurangan stand tersebut menjadi tanggung jawab para pelapak. Ini juga menjadi salah satu bukti bahwa warga masyarakat mengapresiasi dengan baik penyelenggaraan Konfercab di Welahan Wetan ini.

Puncaknya pada proses pemilihan Pucuk pimpinan NU di Kabupaten Cilacap, saya melihat, prosesnya berjalan dengan lancar, hangat tanpa nuansa persaingan yang mencolok dan semangat berorganisasi yang positif. Jikapun ada insiden, saya meyakini insiden tersebut tidak lantas membuat pelaksanaan konfercab NU ini menjadi dinilai kurang baik. Karena sedari awal penyelenggaraanya, memang sudah dibungkus dengan berbagai kegiatan yang menarik, menghibur dan mengekspresikan kegembiraan ber organisasi.

Dan tepat sepekan pelaksanaan konfercab NU selesai dilaksanakan, Gus Nas, sapaan akrab dari KH Nasrulloh Muchson, Ketua Tanfidziyyah PCNU Cilacap hasil Konfercab di Welahan Wetan ini Ahad malam (6/5) memberikan ceramah dalam kegiatan Akhirussanah Majelis Ta’lim di Kuripan Kidul , Kesugihan. Dalam ceramahnya Gus Nas berpesan bahwa Sebagai Pengurus NU dan Warga Nahdliyin, harus berjam’iyyah atau berorganisasi dengan penuh gembira dan bangga, sehingga itu akan menjadi modal yang baik dalam berkhidmat kepada jam’iyyah tersebut. (Fajri)


Sabtu, 28 April 2018

Lewati Pematang Sawah, Apel 7000 Warga NU Cilacap berjalan Tertib.


Adipala, kitaberjejak.blogspot.co.id – Sebagian dari mereka memasang bendera hijau di Sepeda motornya, juga mobilnya, tak sedikit juga yang menggunakan Bus dan Truck agar panji-panji organisasi kebanggaannya berkibar-kibar lebih tinggi, mengimbangi angin yang menghempasnya. Kendaraan yang di hiasi panji-panji Nahdlatul Ulama (NU) ini, Menyusuri jalanan, mulai cilacap ujung barat maupun cilacap ujung timur, bergerak menuju satu titik pertemuan.  Untuk mengantarkan penumpangnya ke sebuah tanah lapang di sekitaran Gunung Srandil Adipala.

Peserta Apel dari Banser
(Sumber : Fb Chanifur Rochman)
Hari itu sabtu 28 April 2018, keluarga besar Nahdlatul Ulama Kabupaten Cilacap mengumpulkan seluruh Badan Otonom dan Kader-kadernya, untuk dibariskan dalam Apel bersama yang merupakan bagian dari rangkaian acara Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Cilacap tahun 2018.
Apel yang bertempat di Lapangan Desa Srandil, Adipala ini di ikuti oleh Seluruh Badan Otonom NU diantaranya adalah Muslimat, Fatayat, Gerakan Pemuda Ansor beserta Bansernya, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama, dan Pagar Nusa. Selain Badan Otonom, Apel ini juga diikuti oleh perwakilan dari pengurus Majelis Wakil Cabang serta para alumni pendidikan kader penggerak.

Rois Suriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Ubaidillah Shodaqoh bertindak sebagai pembina Apel Dalam amanatnya, menegaskan tentang komitmen kebangsaan NU terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang tidak perlu diragukan lagi, pada Apel ini saja sedikitnya 7000 Peserta yang merupakan kader-kader NU, bersedia dengan sukarela untuk hadir merapatkan barisan. Dan bukan tidak mungkin, seluruh elemen NU akan selalu siap jika dipanggil oleh bangsa dan Negara untuk mempertahankan keutuhannya.

Senada dengan yang diamanatkan Rois Suriyah PWNU, Aid Mustaqim, Koordinator Apel Banom dan Kader NU Cilacap menyampaikan bahwa Warga NU Cilacap sepakat bahwa NKRI adalah Harga Mati, sehingga jangan coba-coba mengusiknya jika tidak ingin berhadapan dengan NU. 

Peserta menyusuri pematang sawah
Untuk sampai Lokasi.
(Sumber : fb Chanifur Rochman)
Hal sederhana dalam pantauan redaksi kitaberjejak, yang menunjukkan komitmen yang tinggi dari warga NU adalah soal militansi peserta, terlihat dari usaha para peserta Apel untuk sampai ke Lokasi kegiatan, kesemuanya digerakkan karena kecintaan terhadap NU dan NKRI, bahkan tidak sedikit  ibu-ibu muslimat yang berusia lanjut rela berjalan menyusuri pematang sawah untuk segera sampai Lapangan lokasi Apel. Tidak hanya begitu, sesampai dilokasi dan selama Apel berjalan, dalam jemuran terik matahari, lebih dari 50 Peserta mengalami pusing dan pingsan karena memiliki masalah dengan daya tahan tubuh. Meskipun dalam kondisi demikian, peserta tetap mengikuti apel sampai dibubarkan.

Tepat pukul 11.30, Dengan penuh tertib, kendaraan berpanjikan bendera-bendera Nahdlatul Ulama mulai bergerak meninggalkan arena Apel. Sebagian ada yang menuju Madrasah Aliyah Raudlatul Huda Welahan Wetan untuk selanjutnya mengikuti Upacara Pembukaan Konfercab NU, dan sebagian yang lain kembali ke daerahnya masing-masing. (123)


Kamis, 15 Februari 2018

18 Calon Banser Kesugihan digembleng di Binangun

Binangun, kitaberjejak.blogspot.co.id – Jumat Pagi (16/2) Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Kesugihan dibawah Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) ANSOR Kesugihan melaksanakan Apel di Halaman Gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten Cilacap. Apel ini dilaksanakan dalam rangka untuk melepas 18 Calon kader Banser Kesugihan yang akan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar (DIKLATSAR) di Kecamatan Binangun.
Apel Banser Kesugihan
di Halaman Pusdiklat PCNU Cilacap

Pada Diklatsar Binangun ini, Satkoryon Kesugihan mengirimkan calon kader Bansernya sebanyak 18 orang. Jumlah ini berkurang dari yang sebelumnya mendaftar berjumlah 21 orang, karena beberapa alasan ada 3 peserta yang datanya sudah masuk ke Satkoryon Kesugihan terpaksa belum bisa mengikuti Diklatsar di Binangun.

Diklatsar di Binangun sendiri, merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh PAC GP  ANSOR Kecamatan Binangun. Kegiatan ini merupakan kaderisasi formal yang harus diikuti oleh seluruh orang yang bergabung dan menjadi bagian dari Banser.  Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 hari, mulai dari tanggal 16 hingga 18 Februari ini dilaksanakan di Komplek MI dan MTs Al Kholidiyah Widarapayung Wetan Binangun.

18 Calon Peserta dari Kesugihan
Rencananya kegiatan ini akan dibuka langsung oleh KH Su’ada Adzkiya, Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Cilacap. Sampai berita ini dirilis, Lokasi kegiatan yang dipusatkan di Mts Al kholidiyah sudah ramai dipadati oleh calon peserta diklatsar maupun Instruktur dari Satkorcab Banser Cilacap, maupun para tamu Undangan yang akan mengikuti Acara Pembukaan. (123)

Rabu, 31 Januari 2018

GP ANSOR Kesugihan Siap Bertemu Ketua Umum.

Kesugihan, kitaberjejak.blogspot.co.id – Sedikitnya ada 100 kader GP ANSOR, baik BANSER maupun Rijalul Ansor,  dari Kesugihan yang siap untuk berangkat ke Majenang mengikuti Apel dan Pengarahan dari Ketua Umum PP GP ANSOR, Gus Yaqut. Begitulah informasi sementara yang diperoleh redaktur Kitaberjejak melalui Whatsapp dari salah satu kader BANSER kesugihan.

Kader Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) Kesugihan
Seperti diketahui bahwa Kamis (1/2) besok, rencananya seluruh elemen Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda ANSOR (GP ANSOR) Kabupaten Cilacap akan berkumpul di Alun-alun Majenang untuk mengadakan Apel bersama Ketua Umum Pimpinan Pusat GP ANSOR Yaqut Cholil Qoumas. Apel yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Lahir Ke 92 Nahdlatul Ulama ini, rencananya juga akan dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Oleh Penyelenggara, Ganjar sapaan akrab Gubernur Jawa Tengah ini, akan didapuk untuk menjadi Inspektur Apel.

Sebagai bagian dari Jam’iyyah Nahdlatul ‘Ulama (NU), PC GP ANSOR Kabupaten Cilacap memandang Apel ini sebagai kegiatan yang penting, selain sebagai seremonial memperingati Hari Lahir yang ke 92 Nahdlatul Ulama, juga sebagai sarana konsolidasi kader di wilayah Kabupaten Cilacap. Konsolidasi yang dimaksud guna menunjukkan dan meneguhkan komitmen seluruh elemen GP ANSOR untuk senantiasa patuh dan siap dalam mengawal Nahdlatul Ulama dan tentunya meneguhkan komitmen untuk selalu siap menjadi benteng muda yang kokoh dalam menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Informasi tentang Apel ini jauh-jauh hari sudah tersebar luas kepada seluruh kader GP ANSOR di Wilayah Kabupaten Cilacap, baik ditingkat Kecamatan maupun tingkat Desa. Tak terkecuali  di Wilayah Kecamatan Kesugihan.

Menyikapi kegiatan Apel tersebut, Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP ANSOR Kesugihan menyambut positif dan penuh antusias, dengan langsung meneruskan berbagai Informasi yang bersifat Instruksional kepada Seluruh kader di Kesugihan. Baik melalui pesan yang diteruskan melalui Group Whatsapp maupun melalui pertemuan koordinasi memastikan kesiapan dan mempersiapkan kebutuhan untuk mengikuti Apel tersebut, yang diselenggarakan di Masjid Banteran Kalisabuk pada malam H-3 Pelaksanaan Apel.

Selain Kesugihan, beberapa kecamatan lain di Cilacap bagian timur dan Cilacap bagian barat, juga sudah mengkonsolidir diri untuk memastikan kader-kadernya untuk hadir mengikuti Apel tersebut. (123)

Selasa, 26 Desember 2017

MWCNU Baru diminta Lebih Kritisi Soal Perizinan Tempat Hiburan.

Kesugihan, kitaberjejak.blogspot.co.id – Hal tersebut menjadi salah satu Hasil sidang Komisi C Konferensi MWCNU Kesugihan tentang Rancangan Pokok-pokok Pikiran dan Rekomendasi MWCNU Kesugihan untuk Kepengurusan masa khidmat 2017 – 2022. Peserta sidang memandang, selama ini MWCNU sudah mengambil peran dalam mengkritisi kebijakan pemerintah, terutama tentang pemberian izin tempat hiburan, namun hasilnya belum maksimal. Sehingga, peserta sidang yang terdiri dari para rois syuriyah Pengurus Ranting NU se Kecamatan Kesugihan ini sepakat agar untuk kepengurusan MWCNU Kesugihan yang mendatang, untuk lebih ditingkatkan dalam mengkritisi kebijakan pemerintah terutama terkait dengan pemberian izin tempat hiburan di wilayah kecamatan kesugihan.

Selain merekomendasikan hal tersebut, komisi C ini juga merekomendasikan sedikitnya 10 Point yang harus dijalankan oleh Kepengurusan MWCNU mendatang untuk meningkatkan kinerja internal organisasi. Dan ada 9 Point rekomendasi dari Para Rois Syuriyah Pengurus Ranting NU untuk meningkatkan Hubungan sinergisitas antara MWCNU para pihak diluar NU, baik dalam wilayah kecamatan kesugihan maupun kabupaten cilacap.
KH Labiburrohmat, Rois Syuriah Demisioner
Memberikan Khutbah Pembukaan.


Sidang komisi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Konferensi MWCNU Kesugihan, yang dilaksanakan pada hari Ahad tanggal 24 Desember 2017. Bertempat di Masjid Al Itqon, Komplek Pondok Pesantren Huffadzil Qur’an Fadlulloh Kuripan Kidul, Konferensi MWCNU ini dihadiri oleh delegasi 16 Pengurus Ranting NU Se Kesugihan dan beberapa pengurus MWCNU, Pengurus Badan Otonom NU tingkat Kecamatan dan Tokoh-tokoh NU di Wilayah Kesugihan.

Dalam kegiatan yang salah satu tujuannya adalah untuk memilih dan menetapkan Rois Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah Pengurus MWCNU Kesugihan periode 2017 – 2022 ini, terpilih KH. Charir Mucharir, SH, M.Pd.I sebagai Rois Syuriyah MWCNU Kesugihan yang baru, menggantikan KH. Labiburrohmat Al Khafidz, S.Pd.I. Dalam Konferensi ini Juga terpilih H. Towil AL Baha, SH sebagai Ketua Tanfidziyyah MWCNU Kesugihan masa Khidmat 2017 – 2022. H. Towil Al Baha merupakan sosok yang tidak asing di tubuh MWCNU Kesugihan, mengingat sebelumnya dirinya adalah Plt Ketua Tanfidziyyah periode 2012 – 2017.
Foto Bersama MWCNU Demisioner dan Terpilih


Pasangan KH Charir Mucharir dan H. Towil Al Baha ini diharapkan menjadi pasangan yang ideal dan saling melengkapi, dalam menahkodai NU di Wilayah Kecamatan Kesugihan selama 5 tahun mendatang. Setidaknya dapat menjalankan point-point rekomendasi dari para rois syuriyah NU Ranting se Kecamatan Kesugihan yang telah dirumuskan dalam konferensi ini, agar kebermanfaatan MWCNU secara struktural dapat lebih dirasakan oleh warga nahdliyin dan warga masyarakat secara umum, di wilayah kesugihan.

Dan Akhirnya, Selamat berkhidmat dan semoga berlimpah keberkahan... 

Minggu, 24 Desember 2017

Perayaan Natal Kurang Sehari, BANSER Kesugihan Adakan Apel.

Kesugihan, kitaberjejak.blogspot.co.id – Minggu 24 Desember 2017, Tepat kurang sehari pelaksanaan Perayaan Hari Natal, Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) dibawah Komando Koordinasi Rayon Kesugihan berkumpul untuk mengadakan Apel, di Halaman Masjid Al Itqon, Komplek Pondok Pesantren Huffadzil Qur'an Fadlulloh Kuripan Kidul, Kesugihan. 

Apel yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air ini diikuti oleh tidak kurang dari 90 Anggota BANSER se wilayah kecamatan kesugihan. 

Muharis, dari Polsek Kesugihan
Selaku Pembina Apel Banser 
Muharis, Anggota Kepolisian Republik Indonesia Sektor Kesugihan Bertindak sebagai Pembina Apel, mengapresiasi langkah yang dilakukan BANSER Kesugihan.

“Inisiatif seperti ini merupakan hal baik yang dilakukan oleh masyarakat sipil, untuk menumbuhkan dan menambah rasa cinta terhadap kesatuannya yang harapannya juga menumbuhkan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Ujarnya.

Selain karena untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, Apel ini juga dimaksudkan untuk memberikan dukungan atas diselenggarakannya Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kesugihan yang dilaksanakan pada hari itu juga.
BANSER Kesugihan dalam Barisan Apel

Hadi Mustofa, selaku Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Ka Satkoryon) Banser Kesugihan membenarkan hal tersebut. Menurutnya, Sebagai Benteng Ulama dan Bagian yang tidak terpisahkan dari Nahdlatul Ulama, sudah seharusnya BANSER memberikan dukungan terhadap semua kegiatan yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama, termasuk pelaksanaan Konferensi ini.  


“BANSER akan selalu siap untuk mengawal dan mengamankan setiap kegiatan Nahdlatul Ulama.” Imbuhnya. 

Apel ditutup dengan menyanyikan yel-yel penyemangat kesatuan Banser dan Foto Bersama. (123)

Minggu, 10 Desember 2017

MWCNU Kesugihan, Siap Konferensi.

Kesugihan, kitaberjejak.blogspot.com- Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Kesugihan, dalam waktu yang tidak lama akan menggelar Konferensi MWC NU. Rencananya, agenda rutin 5 tahunan tersebut akan di gelar di Komplek Masjid Al Itqon Desa Kuripan Kidul pada hari Ahad tanggal 24 Desember 2017.


Seperti diketahui bersama bahwa Konferensi MWC NU Kesugihan tahun ini, merupakan kewajiban kepengurusan MWC NU mandataris Konferensi sebelumnya, atau konferensi yang dilaksanakan kisaran tahun  2012. Pada Konferensi sebelumnya telah berhasil memilih KH. Labiburrohmat sebagai Rois Syuriyah dan Drs. Akhmad Sulman (Alm) sebagai Ketua Tanfidziyah. Pada perjalanannya, karena Drs. Akhmad Sulman meninggal dunia, sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga NU, sehingga posisi Ketua Tanfidziyyah diberikan kepada H. Towil Al Baha, yang saat itu selaku Wakil Ketua Tanfidziyyah.

Saat ini, Pengurus MWCNU Kesugihan telah membentuk kepanitian yang diberi mandat untuk menyelenggarakan dan mensukseskan agenda tersebut. Melihat strategisnya agenda ini, baik bagi Lembaga NU,  Badan Otonom (Banom) maupun warga Nahdliyyin  di kesugihan, maka menjadi penting untuk semua elemen warga Nahdliyyin dapat turut serta mensukseskannya. Bagaimana caranya? Minimal bersama-sama mendoakan agar Musyawarah tersebut dapat berjalan dengan lancar, sukses dan tentunya menghasilkan keputusan yang membawa kebaikan untuk semua kalangan, khususnya untuk NU sendiri.

Beberapa kalangan berharap, siapapun nantinya yang terpilih menjadi Rois Syuriyah dan Ketua Tanfidziyyah, semoga kedepan kepengurusan MWC NU Kesugihan lebih solid dan lebih progresif dalam mengawal Program-programnya untuk kemaslahatan masyarakat. Terlebih MWCNU Kesugihan memiliki potensi yang besar untuk berkembang. Mulai dari ketersediaan Sumber Daya Manusia yang tersebar di 16 Desa baik yang masuk dalam jajaran struktural NU dan Banomnya maupun kultural, Jaringan Pondok Pesantren, Lembaga Pendidikan, Layanan Kesehatan, dan Potensi-potensi lainnya yang tentunya harus digarap dan dimaksimalkan dengan baik.

Mari Sukseskan 
dan 
Selamat mempersiapkan Konferensi. (123)

Selasa, 21 November 2017

BANSER menggeruduk Pengajian (?)

Cilacap, kitaberjejak.blogspot.com - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Tengah menggelar Bahtsul Masail pada Senin, 20 November 2017. Bertempat di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumadin Kesugihan Cilacap, kegiatan yang di ikuti oleh seluruh perwakilan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se Jawa Tengah digelar.

Suasana Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah
sumber : nujateng.com
Bahtsul Masail merupakan kegiatan yang akrab di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), sebagai tradisi intelektual  yang sudah berlangsung sangat lama. Bahkan sebelum Nahdlatul Ulama itu lahir menjadi organisasi formal, praktek bahtsul masail telah ada lebih dulu ditengah masyarakat. Sampai saat ini tradisi Bahtsul masail masih tetap di praktekkan oleh NU untuk merespon dan memberikan solusi problematika aktual yang muncul dalam kehidupan bermasyarakat. Dan tidak tanggung-tanggung, NU membentuk lembaga khusus untuk mengurusi kegiatan Bahtsul Masail yang dikenal dengan Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU).

Dalam Bahtsul masail kali ini, salah satu persoalan sosial yang diangkat untuk dibahas adalah tentang hukum dari Monopoli frekuensi publik, “Ini persoalan yang sangat krusial, yang seharusnya pemerintah bisa mengatur ulang. Jika regulasi belum bisa menjerat orang-orang yang memonopoli, maka rekomendasi kami yang berdasarkan pada hukum Islam bisa dijadikan pertimbangan. Seharusnya dalam memahami regulasi jangan secara tekstual, tapi memperhatikan filosofi hukumnya juga,” jelas Dewan Perumus Bahtsul Masail, Hudallah Ridwan sepeti yang dilansir melalui nujateng.com. Para kyai utusan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se Jawa Tengah sepakat untuk menetapkan hukum haram terhadap persoalan sosial tersebut.

BANSER Kesugihan turut mensukseskan kegiatan
Bahstul Masail PWNU Jawa Tengah
Sebagai kegiatan ke-NU-an yang diselenggarakan, selain melibatkan para kiyai dan pengasuh pondok pesantren maupun para intelektual-intelektual yang fasih membicarakan soal agama, panitia Bahtsul Masail ini juga melibatkan Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) sebagai pihak yang berperan dalam suksesnya penyelenggaraan acara. Terutama untuk memastikan ketertiban dan keamanan kegiatan, sehingga para peserta yang hadir dapat fokus mengikuti seluruh rangkaian acara tanpa harus mengkhawatirkan keamanannya.

Seperti yang diketahui banyak pihak, BANSER juga dikenal dengan Tentaranya Nahdlatul Ulama atau biasanya disingkat dengan TNU (Tentara Nahdlatul Ulama). Kenapa demikian? Karena BANSER merupakan Kader inti Gerakan Pemuda ANSOR, sebagai wadah kader-kader muda NU, yang dibentuk dan dididik dengan pola pendidikan kader yang semi militer, ditempa dalam pendidikan yang berorientasi pada kekuatan fisik dan mental. Tak heran jika kemudian seragamnya juga hampir mirip dengan Tentara, yaitu Doreng. Lantas apa yang membedakan TNU dan TNI? Keduanya sama-sama memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, sama-sama memiliki komitmen yang sama untuk menjaga tegak dan utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perbedaannya adalah disamping menjaga NKRI, TNU atau BANSER juga menjadi garda depan dalam menjaga para alim ulama, para kyai Nahdlatul Ulama. Dimana ada majelis atau forum pengajian yang mengisi adalah kyai atau Ulama yang menyejukkan ummat, tidak meresahkan ummat, bisa dipastikan di majelis tersebut selalu ada BANSER. Karena itu adalah komitmen dan tugas utama BANSER sebagai Benteng Ulama.

Dalam kesempatan ini, karena kegiatan bertempat di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumadin kecamatan Kesugihan, sehingga BANSER yang dilibatkan dalam menjaga dan mengawal kegiatan adalah dari  Satuan Koordinasi Rayon (SATKORYON) BANSER Kesugihan. Dibawah Komando dari Kepala Satkoryon BANSER Kesugihan, Hadi Mustofa, lebih dari 50 Anggota BANSER dilibatkan dan disiagakan mengawal ketertiban dan keamanan kegiatan. Yang terbagi dalam beberapa titik keamanan. Mulai di arena utama kegiatan, ditempat menginap para peserta dari Pengurus Wilayah NU maupun di pinggir-pinggir jalan raya dan pintu gerbang utama Pesantren. BANSER sendiri sudah stanby di arena bahtsul masail mulai dari tanggal 19 November malam, tentunya sampai seluruh rangkaian kegiatan selesai yaitu malam Selasa, 20 November 2017.

Perlu diketahui, bukan baru kali ini saja BANSER menggeruduk untuk menjaga pengajian atau forum-forum keagamaan. Seperti yang saya sampaikan diatas, BANSER hampir selalu ada ketika ada forum yang dihadiri oleh kyai-kyai NU. Di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumadin sendiri, dipastikan setiap majelis pengajian Kliwonan selalu ada BANSER yang bertugas mengawal. Setiap peringatan Hari Ulang Tahun (HAUL) Pondok pesantren juga pasti ada BANSER yang turut mengawal. Dan meskipun sebagai tenaga yang bertanggungjawab terhadap keamanan dan ketertiban, dalam forum-forum pengajian atau kajian keagamaan, BANSER didik untuk tidak pernah berharap dapat imbalan berupa uang bayaran atau istilah yang lainnya. BANSER melakukan semua itu dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharap Ridlo Alloh subhanahu wata’ala. Kalaupun ada yang memberi imbalan dalam bentuk apapun, itu dianggap sebagai Bonus yang harus disyukuri. Wallohu A’lam bishowab (123)