Tampilkan postingan dengan label pancasila. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pancasila. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Desember 2017

Perayaan Natal Kurang Sehari, BANSER Kesugihan Adakan Apel.

Kesugihan, kitaberjejak.blogspot.co.id – Minggu 24 Desember 2017, Tepat kurang sehari pelaksanaan Perayaan Hari Natal, Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) dibawah Komando Koordinasi Rayon Kesugihan berkumpul untuk mengadakan Apel, di Halaman Masjid Al Itqon, Komplek Pondok Pesantren Huffadzil Qur'an Fadlulloh Kuripan Kidul, Kesugihan. 

Apel yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air ini diikuti oleh tidak kurang dari 90 Anggota BANSER se wilayah kecamatan kesugihan. 

Muharis, dari Polsek Kesugihan
Selaku Pembina Apel Banser 
Muharis, Anggota Kepolisian Republik Indonesia Sektor Kesugihan Bertindak sebagai Pembina Apel, mengapresiasi langkah yang dilakukan BANSER Kesugihan.

“Inisiatif seperti ini merupakan hal baik yang dilakukan oleh masyarakat sipil, untuk menumbuhkan dan menambah rasa cinta terhadap kesatuannya yang harapannya juga menumbuhkan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.” Ujarnya.

Selain karena untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, Apel ini juga dimaksudkan untuk memberikan dukungan atas diselenggarakannya Konferensi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kesugihan yang dilaksanakan pada hari itu juga.
BANSER Kesugihan dalam Barisan Apel

Hadi Mustofa, selaku Kepala Satuan Koordinasi Rayon (Ka Satkoryon) Banser Kesugihan membenarkan hal tersebut. Menurutnya, Sebagai Benteng Ulama dan Bagian yang tidak terpisahkan dari Nahdlatul Ulama, sudah seharusnya BANSER memberikan dukungan terhadap semua kegiatan yang diselenggarakan oleh Nahdlatul Ulama, termasuk pelaksanaan Konferensi ini.  


“BANSER akan selalu siap untuk mengawal dan mengamankan setiap kegiatan Nahdlatul Ulama.” Imbuhnya. 

Apel ditutup dengan menyanyikan yel-yel penyemangat kesatuan Banser dan Foto Bersama. (123)

Selasa, 21 November 2017

BANSER menggeruduk Pengajian (?)

Cilacap, kitaberjejak.blogspot.com - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Tengah menggelar Bahtsul Masail pada Senin, 20 November 2017. Bertempat di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumadin Kesugihan Cilacap, kegiatan yang di ikuti oleh seluruh perwakilan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se Jawa Tengah digelar.

Suasana Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah
sumber : nujateng.com
Bahtsul Masail merupakan kegiatan yang akrab di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), sebagai tradisi intelektual  yang sudah berlangsung sangat lama. Bahkan sebelum Nahdlatul Ulama itu lahir menjadi organisasi formal, praktek bahtsul masail telah ada lebih dulu ditengah masyarakat. Sampai saat ini tradisi Bahtsul masail masih tetap di praktekkan oleh NU untuk merespon dan memberikan solusi problematika aktual yang muncul dalam kehidupan bermasyarakat. Dan tidak tanggung-tanggung, NU membentuk lembaga khusus untuk mengurusi kegiatan Bahtsul Masail yang dikenal dengan Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU).

Dalam Bahtsul masail kali ini, salah satu persoalan sosial yang diangkat untuk dibahas adalah tentang hukum dari Monopoli frekuensi publik, “Ini persoalan yang sangat krusial, yang seharusnya pemerintah bisa mengatur ulang. Jika regulasi belum bisa menjerat orang-orang yang memonopoli, maka rekomendasi kami yang berdasarkan pada hukum Islam bisa dijadikan pertimbangan. Seharusnya dalam memahami regulasi jangan secara tekstual, tapi memperhatikan filosofi hukumnya juga,” jelas Dewan Perumus Bahtsul Masail, Hudallah Ridwan sepeti yang dilansir melalui nujateng.com. Para kyai utusan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se Jawa Tengah sepakat untuk menetapkan hukum haram terhadap persoalan sosial tersebut.

BANSER Kesugihan turut mensukseskan kegiatan
Bahstul Masail PWNU Jawa Tengah
Sebagai kegiatan ke-NU-an yang diselenggarakan, selain melibatkan para kiyai dan pengasuh pondok pesantren maupun para intelektual-intelektual yang fasih membicarakan soal agama, panitia Bahtsul Masail ini juga melibatkan Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) sebagai pihak yang berperan dalam suksesnya penyelenggaraan acara. Terutama untuk memastikan ketertiban dan keamanan kegiatan, sehingga para peserta yang hadir dapat fokus mengikuti seluruh rangkaian acara tanpa harus mengkhawatirkan keamanannya.

Seperti yang diketahui banyak pihak, BANSER juga dikenal dengan Tentaranya Nahdlatul Ulama atau biasanya disingkat dengan TNU (Tentara Nahdlatul Ulama). Kenapa demikian? Karena BANSER merupakan Kader inti Gerakan Pemuda ANSOR, sebagai wadah kader-kader muda NU, yang dibentuk dan dididik dengan pola pendidikan kader yang semi militer, ditempa dalam pendidikan yang berorientasi pada kekuatan fisik dan mental. Tak heran jika kemudian seragamnya juga hampir mirip dengan Tentara, yaitu Doreng. Lantas apa yang membedakan TNU dan TNI? Keduanya sama-sama memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, sama-sama memiliki komitmen yang sama untuk menjaga tegak dan utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perbedaannya adalah disamping menjaga NKRI, TNU atau BANSER juga menjadi garda depan dalam menjaga para alim ulama, para kyai Nahdlatul Ulama. Dimana ada majelis atau forum pengajian yang mengisi adalah kyai atau Ulama yang menyejukkan ummat, tidak meresahkan ummat, bisa dipastikan di majelis tersebut selalu ada BANSER. Karena itu adalah komitmen dan tugas utama BANSER sebagai Benteng Ulama.

Dalam kesempatan ini, karena kegiatan bertempat di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumadin kecamatan Kesugihan, sehingga BANSER yang dilibatkan dalam menjaga dan mengawal kegiatan adalah dari  Satuan Koordinasi Rayon (SATKORYON) BANSER Kesugihan. Dibawah Komando dari Kepala Satkoryon BANSER Kesugihan, Hadi Mustofa, lebih dari 50 Anggota BANSER dilibatkan dan disiagakan mengawal ketertiban dan keamanan kegiatan. Yang terbagi dalam beberapa titik keamanan. Mulai di arena utama kegiatan, ditempat menginap para peserta dari Pengurus Wilayah NU maupun di pinggir-pinggir jalan raya dan pintu gerbang utama Pesantren. BANSER sendiri sudah stanby di arena bahtsul masail mulai dari tanggal 19 November malam, tentunya sampai seluruh rangkaian kegiatan selesai yaitu malam Selasa, 20 November 2017.

Perlu diketahui, bukan baru kali ini saja BANSER menggeruduk untuk menjaga pengajian atau forum-forum keagamaan. Seperti yang saya sampaikan diatas, BANSER hampir selalu ada ketika ada forum yang dihadiri oleh kyai-kyai NU. Di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumadin sendiri, dipastikan setiap majelis pengajian Kliwonan selalu ada BANSER yang bertugas mengawal. Setiap peringatan Hari Ulang Tahun (HAUL) Pondok pesantren juga pasti ada BANSER yang turut mengawal. Dan meskipun sebagai tenaga yang bertanggungjawab terhadap keamanan dan ketertiban, dalam forum-forum pengajian atau kajian keagamaan, BANSER didik untuk tidak pernah berharap dapat imbalan berupa uang bayaran atau istilah yang lainnya. BANSER melakukan semua itu dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharap Ridlo Alloh subhanahu wata’ala. Kalaupun ada yang memberi imbalan dalam bentuk apapun, itu dianggap sebagai Bonus yang harus disyukuri. Wallohu A’lam bishowab (123)

Pemuda Kuripan Kidul, Ikrar Setia Bela NKRI.

(19/11), Gerakan Pemuda Ansor se Kecamatan Kesugihan menggerudug Balai Desa Kuripan Kidul pada Minggu, 19 November 2017. Bukan untuk membubarkan pengajian, namun kader muda NU ini berkumpul untuk melakukan pertemuan rutin Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) se Kesugihan. Sebagai kader Inti dari GP ANSOR, BANSER memang didorong untuk lebih aktif dalam berkegiatan dibanding kader ANSOR yang lainnya. Kegiatan rutinan ini merupakan kegiatan yang kerap dilaksanakan setiap selapanan sekali, atau setiap hari minggu Pon. Untuk tempatnya selalu berkeliling dari satu desa ke desa yang lainnya. Tempatnya juga bebas, tidak harus di masjid, di rumah anggota yang agak luas atau di tempat umum juga tidak menjadi soal.

Pertemuan Rutin merupakan agenda formal yang kerap dilakukan oleh BANSER untuk melakukan koordinasi antar satuan di bawah komando Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon). Disamping sebagai ruang untuk koordinasi, pertemuan seperti ini juga untuk melakukan penguatan dan doktrinasi, baik penguatan tentang keagamaan maupun penguatan tentang nilai-nilai kecintaan terhadap tanah air. Tidak heran jika setiap Anggota BANSER memiliki kecintaan yang mendalam terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pengucapan Sumpah Janji Pengurus GP ANSOR
Ranting Desa Kuripan Kidul

Untuk pertemuan BANSER kali ini, berbeda dengan pertemuan rutin biasanya. Karena pada kesempatan ini dibarengi juga dengan prosesi Pelantikan Pengurus Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Desa Kuirpan Kidul. Sebuah prosesi pengucapan sumpah janji untuk bersedia menjalankan roda organisasi sesuai dengan mekanisme dan aturan organisasi untuk 1 masa khidmat. Tidak hanya Bersumpah untuk bersedia menjalankan mandat organisasi, Pengurus ANSOR juga bersumpah untuk bersedia menjunjung tinggi Ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah, Ideologi Pancasila dan bersedia untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sahabat H. Aid Mustaqim, Ketua Pokjaluh Cilacap
Hadir dalam kesempatan tersebut, H. Aid Mustaqim, Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kabupaten Cilacap, yang juga memiliki kedekatan dengan GP ANSOR. Mantan Ketua GP ANSOR Kabupaten Wonosobo ini diberi kesempatan untuk memberikan motivasi dan arahan kepada segenap pengurus terlantik dan Kader Ansor yang hadir. Dalam penyampainnya, Aid Mustaqim menyampaikan bahwa sebagai kader organisasi, kita harus bersedia bekerja untuk organisasi dengan penuh ikhlas, jangan sekali-kali mempersoalkan jabatan apa yang melekat dalam diri kita di organisasi tersebut. Karena antar kita, apapun jabatan di organisasinya, memiliki kapasitas dan karakter yang berbeda-beda, yang saling melengkapi satu sama lain. Dan kapasitas dan karakter yang berbeda-beda tersebut semuanya dibutuhkan oleh organisasi untuk mencapai kejayaaannya. Sekali kita mempersoalkan jabatan, hancurlah organisasi ini.

Selain motivasi tentang militansi organisasi dari Aid Mustaqim, para kader dan pengurus terlantik juga mendapat dukungan penuh dari Kepala Desa Kuripan Kidul, Bejo Parmin. Bahkan Kepala Desa berharap agar GP ANSOR Kuripan Kidul untuk berkenan menjadi mitra dalam mengawal proses pembangunan di desa, sehingga program-program pembangunan di desa dapat berjalan baik yang muaranya adalah untuk kesejahteraan masyarakat desa kuripan kidul.

Bersalam-salaman dengan iringan sholawat Nabi menutup seluruh proses kegiatan yang tanpa henti dibalut dengan guyuran hujan ini. Seluruh kader kembali ke rumah masing-masing, berkumpul kembali dengan masyarakat setelah mendapat tambahan semangat, bahwa berorganisasi adalah ruang pembelajaran, dan hidup bermasyarakat adalah ruang untuk mengaplikasikannya. (123)