Tampilkan postingan dengan label pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pesantren. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Februari 2020

CILACAP SIAP GELAR LI & SUSPELAT


Cilacap (kitaberjejak.blogspot.co.id) – Gelaran Latihan Instruktur (LI) dan Kursus Pelatih (SUSPELAT) bagi kader Gerakan Pemuda Ansor yang rencana akan dilaksanakan di kabupaten Cilacap sudah mulai hangat diperbincangkan. 

Sebagai tuan rumah, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Cilacap mulai sibuk untuk menyambut baik event tingkat wilayah ini. Mulai dari membentuk kepanitiaan, berkoordinasi dengan berbagai instansi dan tentunya berkoordinasi dengan Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah sebagai pihak yang berwenang mengurusi LI dan SUSPELAT.



Terhitung PC GP ANSOR kabupaten Cilacap telah menyelenggarakan 2 kali pertemuan, khusus untuk membicarakan persiapan LI dan SUSPELAT. Pertemuan pertama dilaksanakan tanggal 1 Februrari 2020. Pada pertemuan yang bertempat di Wana Wisata Wanarata ini, berhasil menyepakati susunan kepanitaan LI dan SUSPELAT tingkat Kabupaten yang selanjutnya menjadi perangkat PC GP ANSOR Cilacap untuk menyiapkan berbagai hal guna suksesnya kegiatan LI dan SUSPELAT. PC GP ANSOR Cilacap memberikan mandat kepada Ahmad Rusdan untuk menjadi ketua panitia penyelenggara.

Selain menyepakati kepanitiaan, pertemuan pertama ini juga menyepakati rencana waktu pelaksanaan dan lokasi kegiatan.  Rencananya tahapan pelaksanaan LI dan SUSPELAT akan dimulai dengan Screening pada tanggal 22 Maret 2020 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kroya. Sedangkan untuk tahap pelaksanaannya dilaksanakan pada tanggal 27, 28, 29 Maret 2020 di lokasi yang sama dengan Screening.

Pertemuan kedua diselenggarakan di Kantor PC GP ANSOR Cilacap, pada tanggal 15 Februari 2020 dengan menyepakati hal-hal teknis dan administratif kepanitiaan yang harus segera disiapkan. Pembicaraan dalam rapat kedua ini diantaranya adalah tentang kepesertaan, misalnya ketentuan dan Persyaratan Peserta, target peserta, juga merencanakan beberapa tahap perencanaan manajemen tempat acara beserta berbagai alternatifnya jika menemukan situasi-situasi yang tidak memungkinkan.

Ketua PC GP ANSOR Cilacap, ‘Aliman S.Pd, dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa Cilacap bersyukur berkesempatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan LI dan SUSPELAT, ini adalah yang pertama di Cilacap. Dirinya juga mengajak kepada kader GP ANSOR di Cilacap untuk bersama-sama  menjadi tuan rumah yang baik.

Senin, 07 Mei 2018

Mereka ber-NU dengan Riang Gembira.


Adipala, kitaberjejak.blogspot.co.id – Sudah Sepekan, Gelaran Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama Kabupaten Cilacap tahun 2018, telah usai digelar pada minggu malam, 29 April 2018. dengan puncak acara Pemilihan Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) untuk masa Khidmat 2018 – 2023. Terpilih kembali KH. Su’ada Adzkia sebagai Rois Syuriah dan KH. Drs. Nasrulloh Muchson sebagai Ketua Tanfidziyyah, dengan proses dan serangkaian kegiatan konfercab yang menurut pengamatan redaksi berjejak penuh dengan Riang gembira.
Ekspresi Peserta,
dalam Pembukaan Konfercab NU Cilacap 2018 

Bagaimana tidak riang gembira, dilihat dari postur rangkaian kegiatan, Konfercab ini lain dari pada yang lain. Bahkan Marsudi Suhud, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak canggung-canggung berseloroh dihadapan peserta konfercab dengan mengatakan Konfercab NU Cilacap itu Konfercab rasa Muktamar. Artinya tingkat keseriusan penyelenggaraan konfercab ini sudah paripurna.

Bagi saya, konfercab ini mencerminkan antusiasme masyarakat NU cilacap dalam berkhidmat dan bergabung dengan NU. Semakin kualitas penyelenggaraan konfercab yang baik, dan bahkan ada yang menyebutnya sudah berasa seperti Muktamar, artinya bahwa para pihak yang terlibat untuk mensukseskan kegiatan ini memang sangat cinta terhadap NU. Kata kyai saya, orang kalau sudah kadung cinta bisa melakukan apapun untuk memberikan yang terbaik kepada yang dicintainya. Jika boleh untuk mengambil kesimpulan awal, warga NU di cilacap sudah pada posisi, atau minimal mendekati posisi, percaya diri dan bangga menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama.

Beberapa Rangkaian kegiatan konfercab tersebut diantaranya doa bersama dan Khotmil Quran, Pawai Taaruf, Apel Kebersamaan Banom dan Kader, Bazar, Pentas Seni, Lomba solo song, Tilawah dan Menulis, Donor Darah dan tentunya kegiatan utama adalah Sidang-sidang Konfercab.

Membaca beberapa tulisan menyatakan bahwa, Gembira, secara sederhananya dapat diartikan dengan rasa senang, bangga, bahagia, suka,. Dari beberapa pakar psikologi menyampaikan bahwa gembira atau kegembiaraan merupakan sebuah perasaan positif yang berasal dari keseluruhan hidup manusia yang ditandai dengan adanya kesenangan yang dirasakan oleh individu maupun kelompok ketika melakukan hal yang disenangi dengan tidak merasa menderita. Sejalan dengan pendapat para pakar psikologi tersebut, Seluruh elemen NU dan bahkan warga masyarakat di Cilacap, memancarkan energi positif, dalam pelaksanaan  konfercab NU ini.

Antusiasme Masyarakat
Untuk mengikuti Pawai Ta'aruf
(Sumber :Fb Lisa Choiriyah)
Aura kegembiraan jelas terpancar dari kegiatan ini, baik dari para tamu undangan, orang-orang yang terlibat dalam rangkaian kegiatan-kegiatan tersebut. mari kita lihat Misalnya pada saat pawai taaruf yang dilaksanakan, sehari sebelum upacara resmi pembukaan dimulai, luapan kegembiaraan sudah mengemuka dari warga Nahdliyin, secara sukarela berbondong-bondong untuk turut dalam pawai ini, tidak hanya dari warga Nahdliyin yang ada di kecamatan Adipala, pawai ini juga di ikuti oleh yang dari luar Adipala.  Terlebih di sore harinya langsung di sambut dengan pertunjukkan-pertunjukkan seni yang digawangi oleh Lembaga Seni dan Budaya Muslim (Lesbumi), sebuah Lembaga milik NU yang khusus menggarap Kesenian dan Kebudayaan, melalu Panggung Seni yang berdiri Megah di Komplek PP Raudlatul Huda Welahan. Dan menariknya Panggung Seni ini terus saja memproduksi hiburan sampai dengan malam terakhir Konfercab NU, dengan berbagai penampilan dan suguhan seni yang sangat menghibur masyarakat dan peserta konfercab.

Stand Bazar yang berada di sekitar
Arena Konfercab NU Cilacap 2018
Tidak hanya itu, untuk warga masyarakat atau tamu undangan yang hadir di arena Konfercab, sambil menikmati alunan musik, menonton drama teater, mendengarkan lantunan merdunya qosidah ataupun pertunjukkan seni laiinya, sembari berjalan-jalan melihat Bazar yang sengaja di sediakan oleh panitia. Panitia menggear bazar yang berisikan stand-stand untuk Jual beli atau sekedar Promosi di Halaman Masjid Baitul Muttaqin dan Sepanjang jalan antara Masjid sampai ke Madrasah Aliyah Raudlatul Huda Welahan Wetan.  Dari total 65 Stand yang disediakan panitia, ternyata jumlah tersebut masih kurang, karena setelah di data oleh panitia, jumlah stand atau pedagang ada 68, dan prakatis kekurangan stand tersebut menjadi tanggung jawab para pelapak. Ini juga menjadi salah satu bukti bahwa warga masyarakat mengapresiasi dengan baik penyelenggaraan Konfercab di Welahan Wetan ini.

Puncaknya pada proses pemilihan Pucuk pimpinan NU di Kabupaten Cilacap, saya melihat, prosesnya berjalan dengan lancar, hangat tanpa nuansa persaingan yang mencolok dan semangat berorganisasi yang positif. Jikapun ada insiden, saya meyakini insiden tersebut tidak lantas membuat pelaksanaan konfercab NU ini menjadi dinilai kurang baik. Karena sedari awal penyelenggaraanya, memang sudah dibungkus dengan berbagai kegiatan yang menarik, menghibur dan mengekspresikan kegembiraan ber organisasi.

Dan tepat sepekan pelaksanaan konfercab NU selesai dilaksanakan, Gus Nas, sapaan akrab dari KH Nasrulloh Muchson, Ketua Tanfidziyyah PCNU Cilacap hasil Konfercab di Welahan Wetan ini Ahad malam (6/5) memberikan ceramah dalam kegiatan Akhirussanah Majelis Ta’lim di Kuripan Kidul , Kesugihan. Dalam ceramahnya Gus Nas berpesan bahwa Sebagai Pengurus NU dan Warga Nahdliyin, harus berjam’iyyah atau berorganisasi dengan penuh gembira dan bangga, sehingga itu akan menjadi modal yang baik dalam berkhidmat kepada jam’iyyah tersebut. (Fajri)


Selasa, 26 Desember 2017

MWCNU Baru diminta Lebih Kritisi Soal Perizinan Tempat Hiburan.

Kesugihan, kitaberjejak.blogspot.co.id – Hal tersebut menjadi salah satu Hasil sidang Komisi C Konferensi MWCNU Kesugihan tentang Rancangan Pokok-pokok Pikiran dan Rekomendasi MWCNU Kesugihan untuk Kepengurusan masa khidmat 2017 – 2022. Peserta sidang memandang, selama ini MWCNU sudah mengambil peran dalam mengkritisi kebijakan pemerintah, terutama tentang pemberian izin tempat hiburan, namun hasilnya belum maksimal. Sehingga, peserta sidang yang terdiri dari para rois syuriyah Pengurus Ranting NU se Kecamatan Kesugihan ini sepakat agar untuk kepengurusan MWCNU Kesugihan yang mendatang, untuk lebih ditingkatkan dalam mengkritisi kebijakan pemerintah terutama terkait dengan pemberian izin tempat hiburan di wilayah kecamatan kesugihan.

Selain merekomendasikan hal tersebut, komisi C ini juga merekomendasikan sedikitnya 10 Point yang harus dijalankan oleh Kepengurusan MWCNU mendatang untuk meningkatkan kinerja internal organisasi. Dan ada 9 Point rekomendasi dari Para Rois Syuriyah Pengurus Ranting NU untuk meningkatkan Hubungan sinergisitas antara MWCNU para pihak diluar NU, baik dalam wilayah kecamatan kesugihan maupun kabupaten cilacap.
KH Labiburrohmat, Rois Syuriah Demisioner
Memberikan Khutbah Pembukaan.


Sidang komisi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Konferensi MWCNU Kesugihan, yang dilaksanakan pada hari Ahad tanggal 24 Desember 2017. Bertempat di Masjid Al Itqon, Komplek Pondok Pesantren Huffadzil Qur’an Fadlulloh Kuripan Kidul, Konferensi MWCNU ini dihadiri oleh delegasi 16 Pengurus Ranting NU Se Kesugihan dan beberapa pengurus MWCNU, Pengurus Badan Otonom NU tingkat Kecamatan dan Tokoh-tokoh NU di Wilayah Kesugihan.

Dalam kegiatan yang salah satu tujuannya adalah untuk memilih dan menetapkan Rois Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah Pengurus MWCNU Kesugihan periode 2017 – 2022 ini, terpilih KH. Charir Mucharir, SH, M.Pd.I sebagai Rois Syuriyah MWCNU Kesugihan yang baru, menggantikan KH. Labiburrohmat Al Khafidz, S.Pd.I. Dalam Konferensi ini Juga terpilih H. Towil AL Baha, SH sebagai Ketua Tanfidziyyah MWCNU Kesugihan masa Khidmat 2017 – 2022. H. Towil Al Baha merupakan sosok yang tidak asing di tubuh MWCNU Kesugihan, mengingat sebelumnya dirinya adalah Plt Ketua Tanfidziyyah periode 2012 – 2017.
Foto Bersama MWCNU Demisioner dan Terpilih


Pasangan KH Charir Mucharir dan H. Towil Al Baha ini diharapkan menjadi pasangan yang ideal dan saling melengkapi, dalam menahkodai NU di Wilayah Kecamatan Kesugihan selama 5 tahun mendatang. Setidaknya dapat menjalankan point-point rekomendasi dari para rois syuriyah NU Ranting se Kecamatan Kesugihan yang telah dirumuskan dalam konferensi ini, agar kebermanfaatan MWCNU secara struktural dapat lebih dirasakan oleh warga nahdliyin dan warga masyarakat secara umum, di wilayah kesugihan.

Dan Akhirnya, Selamat berkhidmat dan semoga berlimpah keberkahan... 

Senin, 11 Desember 2017

ANSOR Cilacap Gelar PKL

Cilacap, kitaberjejak.blogspot.co.id- Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor (GP ANSOR) Kabupaten Cilacap akan menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL). Hal itu disampaikan oleh Ketua PC GP ANSOR Cilacap dalam Majelis Rapat Koordinasi Cabang (Rakorcab) GP ANSOR Cilacap, Sabtu lalu 9 Desember 2017 di Pondok Pesantren Metal Tobat Gandrungmangu.

PKL merupakan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan kader jenjang menengah dalam sistem kaderisasi GP ANSOR yang dimaksudkan untuk mencetak kader pemimpin organisasi dan masyarakat di tingkatan pimpinan cabang. Peserta PKL adalah kader GP ANSOR yang telah lulus PKD sekurang-kurangnya enam bulan terakhir yang dibuktikan dengan fotocopy sertifikat dan/atau surat keterangan kelulusan dari pengurus yang berwenang dan direkomendasikan oleh PAC atau PC setempat.

Jajaran Pengurus Harian
PC GP ANSOR Kabupaten Cilacap
PC GP ANSOR Cilacap rencananya akan menyelenggarakan PKL ini pada bulan Januari 2018, ditempatkan di Kecamatan Karangpucung. 100 peserta menjadi target pelaksanaan PKL ini, artinya masing-masing PAC harapannya minimal dapat mengirimkan 5 kadernya untuk dapat mengikuti kegiatan tersebut. Tidak menutup kemungkinan peserta PKL juga bisa dari kabupaten tetangga.  

Selain membicarakan PKL, Rakorcab yang hadiri oleh 15 PAC itu juga membicarakan beberapa program dari PC GP ANSOR Cilacap yang akan dilaksanakan mulai Januari 2018. Diantaranya adalah akan diselenggarakannya Akreditasi Pimpinan Ranting yang ditarget dapat dilaksanakan pada bulan Maret 2018. Selain itu, forum tersebut juga menyinggung tentang kegiatan Konferensi Cabang (Konfercab) GP ANSOR Cilacap yang rencananya akan dilaksanakan sebelum masa khidmat kepengurusan periode sekarang berakhir, yaitu sekitar bulan Juni 2018.


Tidak ketinggalan, pada forum yang dipandu oleh Sahabat Aliman ini, 15 Pengurus PAC yang hadir juga diminta untuk menginformasikan perkembangan masing-masing capaian kegiatan kepengurusannya. Mulai dari kegiatan rutin ke-ANSOR-an, kegiatan Ekonomi organisasi, Kegiatan Pengkaderan, sampai dengan kondisi ranting yang sudah memiliki pengesahan ataupun belum. 

Minggu, 10 Desember 2017

MWCNU Kesugihan, Siap Konferensi.

Kesugihan, kitaberjejak.blogspot.com- Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Kesugihan, dalam waktu yang tidak lama akan menggelar Konferensi MWC NU. Rencananya, agenda rutin 5 tahunan tersebut akan di gelar di Komplek Masjid Al Itqon Desa Kuripan Kidul pada hari Ahad tanggal 24 Desember 2017.


Seperti diketahui bersama bahwa Konferensi MWC NU Kesugihan tahun ini, merupakan kewajiban kepengurusan MWC NU mandataris Konferensi sebelumnya, atau konferensi yang dilaksanakan kisaran tahun  2012. Pada Konferensi sebelumnya telah berhasil memilih KH. Labiburrohmat sebagai Rois Syuriyah dan Drs. Akhmad Sulman (Alm) sebagai Ketua Tanfidziyah. Pada perjalanannya, karena Drs. Akhmad Sulman meninggal dunia, sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga NU, sehingga posisi Ketua Tanfidziyyah diberikan kepada H. Towil Al Baha, yang saat itu selaku Wakil Ketua Tanfidziyyah.

Saat ini, Pengurus MWCNU Kesugihan telah membentuk kepanitian yang diberi mandat untuk menyelenggarakan dan mensukseskan agenda tersebut. Melihat strategisnya agenda ini, baik bagi Lembaga NU,  Badan Otonom (Banom) maupun warga Nahdliyyin  di kesugihan, maka menjadi penting untuk semua elemen warga Nahdliyyin dapat turut serta mensukseskannya. Bagaimana caranya? Minimal bersama-sama mendoakan agar Musyawarah tersebut dapat berjalan dengan lancar, sukses dan tentunya menghasilkan keputusan yang membawa kebaikan untuk semua kalangan, khususnya untuk NU sendiri.

Beberapa kalangan berharap, siapapun nantinya yang terpilih menjadi Rois Syuriyah dan Ketua Tanfidziyyah, semoga kedepan kepengurusan MWC NU Kesugihan lebih solid dan lebih progresif dalam mengawal Program-programnya untuk kemaslahatan masyarakat. Terlebih MWCNU Kesugihan memiliki potensi yang besar untuk berkembang. Mulai dari ketersediaan Sumber Daya Manusia yang tersebar di 16 Desa baik yang masuk dalam jajaran struktural NU dan Banomnya maupun kultural, Jaringan Pondok Pesantren, Lembaga Pendidikan, Layanan Kesehatan, dan Potensi-potensi lainnya yang tentunya harus digarap dan dimaksimalkan dengan baik.

Mari Sukseskan 
dan 
Selamat mempersiapkan Konferensi. (123)

Selasa, 21 November 2017

BANSER menggeruduk Pengajian (?)

Cilacap, kitaberjejak.blogspot.com - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Tengah menggelar Bahtsul Masail pada Senin, 20 November 2017. Bertempat di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumadin Kesugihan Cilacap, kegiatan yang di ikuti oleh seluruh perwakilan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se Jawa Tengah digelar.

Suasana Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah
sumber : nujateng.com
Bahtsul Masail merupakan kegiatan yang akrab di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU), sebagai tradisi intelektual  yang sudah berlangsung sangat lama. Bahkan sebelum Nahdlatul Ulama itu lahir menjadi organisasi formal, praktek bahtsul masail telah ada lebih dulu ditengah masyarakat. Sampai saat ini tradisi Bahtsul masail masih tetap di praktekkan oleh NU untuk merespon dan memberikan solusi problematika aktual yang muncul dalam kehidupan bermasyarakat. Dan tidak tanggung-tanggung, NU membentuk lembaga khusus untuk mengurusi kegiatan Bahtsul Masail yang dikenal dengan Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU).

Dalam Bahtsul masail kali ini, salah satu persoalan sosial yang diangkat untuk dibahas adalah tentang hukum dari Monopoli frekuensi publik, “Ini persoalan yang sangat krusial, yang seharusnya pemerintah bisa mengatur ulang. Jika regulasi belum bisa menjerat orang-orang yang memonopoli, maka rekomendasi kami yang berdasarkan pada hukum Islam bisa dijadikan pertimbangan. Seharusnya dalam memahami regulasi jangan secara tekstual, tapi memperhatikan filosofi hukumnya juga,” jelas Dewan Perumus Bahtsul Masail, Hudallah Ridwan sepeti yang dilansir melalui nujateng.com. Para kyai utusan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se Jawa Tengah sepakat untuk menetapkan hukum haram terhadap persoalan sosial tersebut.

BANSER Kesugihan turut mensukseskan kegiatan
Bahstul Masail PWNU Jawa Tengah
Sebagai kegiatan ke-NU-an yang diselenggarakan, selain melibatkan para kiyai dan pengasuh pondok pesantren maupun para intelektual-intelektual yang fasih membicarakan soal agama, panitia Bahtsul Masail ini juga melibatkan Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) sebagai pihak yang berperan dalam suksesnya penyelenggaraan acara. Terutama untuk memastikan ketertiban dan keamanan kegiatan, sehingga para peserta yang hadir dapat fokus mengikuti seluruh rangkaian acara tanpa harus mengkhawatirkan keamanannya.

Seperti yang diketahui banyak pihak, BANSER juga dikenal dengan Tentaranya Nahdlatul Ulama atau biasanya disingkat dengan TNU (Tentara Nahdlatul Ulama). Kenapa demikian? Karena BANSER merupakan Kader inti Gerakan Pemuda ANSOR, sebagai wadah kader-kader muda NU, yang dibentuk dan dididik dengan pola pendidikan kader yang semi militer, ditempa dalam pendidikan yang berorientasi pada kekuatan fisik dan mental. Tak heran jika kemudian seragamnya juga hampir mirip dengan Tentara, yaitu Doreng. Lantas apa yang membedakan TNU dan TNI? Keduanya sama-sama memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, sama-sama memiliki komitmen yang sama untuk menjaga tegak dan utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perbedaannya adalah disamping menjaga NKRI, TNU atau BANSER juga menjadi garda depan dalam menjaga para alim ulama, para kyai Nahdlatul Ulama. Dimana ada majelis atau forum pengajian yang mengisi adalah kyai atau Ulama yang menyejukkan ummat, tidak meresahkan ummat, bisa dipastikan di majelis tersebut selalu ada BANSER. Karena itu adalah komitmen dan tugas utama BANSER sebagai Benteng Ulama.

Dalam kesempatan ini, karena kegiatan bertempat di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumadin kecamatan Kesugihan, sehingga BANSER yang dilibatkan dalam menjaga dan mengawal kegiatan adalah dari  Satuan Koordinasi Rayon (SATKORYON) BANSER Kesugihan. Dibawah Komando dari Kepala Satkoryon BANSER Kesugihan, Hadi Mustofa, lebih dari 50 Anggota BANSER dilibatkan dan disiagakan mengawal ketertiban dan keamanan kegiatan. Yang terbagi dalam beberapa titik keamanan. Mulai di arena utama kegiatan, ditempat menginap para peserta dari Pengurus Wilayah NU maupun di pinggir-pinggir jalan raya dan pintu gerbang utama Pesantren. BANSER sendiri sudah stanby di arena bahtsul masail mulai dari tanggal 19 November malam, tentunya sampai seluruh rangkaian kegiatan selesai yaitu malam Selasa, 20 November 2017.

Perlu diketahui, bukan baru kali ini saja BANSER menggeruduk untuk menjaga pengajian atau forum-forum keagamaan. Seperti yang saya sampaikan diatas, BANSER hampir selalu ada ketika ada forum yang dihadiri oleh kyai-kyai NU. Di Pondok Pesantren Al Ihya Ulumadin sendiri, dipastikan setiap majelis pengajian Kliwonan selalu ada BANSER yang bertugas mengawal. Setiap peringatan Hari Ulang Tahun (HAUL) Pondok pesantren juga pasti ada BANSER yang turut mengawal. Dan meskipun sebagai tenaga yang bertanggungjawab terhadap keamanan dan ketertiban, dalam forum-forum pengajian atau kajian keagamaan, BANSER didik untuk tidak pernah berharap dapat imbalan berupa uang bayaran atau istilah yang lainnya. BANSER melakukan semua itu dengan penuh keikhlasan dan hanya mengharap Ridlo Alloh subhanahu wata’ala. Kalaupun ada yang memberi imbalan dalam bentuk apapun, itu dianggap sebagai Bonus yang harus disyukuri. Wallohu A’lam bishowab (123)